Selasa, 03 Januari 2012

Belajar dari Cina dan India: Memaknai Nasionalisme

HL | 03 January 2012 | 14:24267  Nihil

13255895532277739
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Kebetulan saya tidak sedang berada di tanah air semenjak beberapa saat yang lalu. Dan banyak hal yang baru pertama kali dilihat, yang berbeda dengan yang saya temui sebelumnya. Dan sering kali hal - hal tersebut saya diskusikan dengan rekan-rekan di Indonesia, baik di mailist list, forum diskusi, dll. Namun terkadang ada sesuatu yang mengganjal yang saya rasakan. Beberapa kali respon yang saya baca justru hal negatif, hingga tuduhan tidak nasionalis, dsb dan hal lain yang tidak saya duga akan didapatkan dari berbagi informasi biasa, yang tujuannya sekedar menambah wacana.
Hal ini sedikit banyaknya menjadi pertanyaan bagi saya. Sebagai contoh ketika sedang berdiskusi topik bekerja di suatu negara di mancanegara, tiba - tiba mucul respon  seperti “seburuk apapun negri kita… Ya itu tetap negri kita yang harus kita bangun” atau “cinta tanah air sebagian dari iman“, atau “jangan sampai kayak manohar*, giliran udah sengsara di negri orang baru deh“, atau ketika sharing mengenai berita, “Selangkah lagi WNI Tak Perlu Visa Untuk ke Eropa“, terdapat komentar seperti, “pariwisata indonesia akan turun, karena lebih murah berwisata ke eropa dari pada dalam negri sendiri.”
Saya heran. Sungguh. Benar - benar heran. Nah agar keherananan itu tidak menjadi hal yang negativ, saya putuskan untuk menulis.
Pertama, membangun negri tidak selamanya harus berada di negri yang kita bangun. Lebih lanjut, tidak bekerja dan berada ditanah air tidak berarti membuat seseorang tidak cinta tanah airnya.
Dalam kasus visa diatas, menurut saya ada sisi positif yang sebenarnya jelas bisa dilihat. Salah satunya, warga manca negara akan berpotensi tambah banyak berkunjung ke indonesia. Mengapa bisa begitu? karena makin bertambah kesempatan untuk mereka untuk mendapat informasi tentang indonesia, semakin sering bertemu dengan orang indonesia asli, bertukar informasi. Sebagai contoh, beberapa kali saya berdiskusi dengan traveller manca-negara dan mencari tau apa yang mereka tau tentang Indonesia. Dan not surprise, umumnya masih sebatas Indonesia banyak teroris, dan yang tidak toleran. Menyedihkan memang. Namun saya tidak heran, karena itu yang umumnya mereka dapat di media lokal mereka. Kita seharusnya bisa berkaca pada malaysia, singapura, dll mereka sudah lebih dikenal pariwisatanya, dan terlebih penting penerimaan dan asumsi positif yang didapat secara umum.
Contoh lain, seperti yang diungkapkan seorang rekan, akan banyaknya daerah-daerah yang sangat besar potensi wisatanya namun masih sulit dijangkau, baik dari darat, laut, maupun udara dan minim fasilitas. Kemudahan untuk mengakses daerah potensi wisata tersebut, akan bisa ditingkatkan salah satunya dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung disana. Karena pada umumnya daerah-daerah seperti itu sedikit lebih mahal untuk dikunjungi karena masih minimnya transportasi, sehingga wisatawan international-lah (yang memiliki kecenderungan untuk membelanjakan budget lebih besar) yang berpotensi besar untuk mempercepat pengembangan area wisata itu, yang pada akhirnya sekaligus mengembangkan ekonomi rakyat sekitar.
Kedua, kebetulan beberapa waktu yang lalu kebetulan saya membaca artikel “India’s Leading Export: CEOs“.    Saya sempat beberapa kali berdiskusi ringan juga dengan kawan-kawan mengenai ini, yang memang  tidak ada habisnya, baik mengenai sepak terjang mereka didunia kerja atau akademik, begitu juga jika berbicara tentang Cina.
Dan memang setidaknya itu juga yang saya lihat di swedia. Seorang kawan pernah bercerita, ia heran kok tetangga kamar sebelah (yang rekan indihe) berganti-ganti wajahnya…ternyata selidik punya selidik, oalah..ternyata kamar untuk 1 orang diisi ber-6 :) Juga saya tidak pernah melihat rekan dari cina yang tidak membawa makan siang ke kampus, pun selalu paling lama pulangnya, walaupun sudah tidak ada kelas, tinggal di study room, biasanya dengan rekan sesama dari cina juga, kadang disambi nonton dan buka facebook versi cina (saya lupa nama websitenya).
Menurut Anies Baswaden, negara mereka setiap tahun menghasilkan ribuan doktoral baik dari US atau Eropa. Jika kita perhatikan website-website universitas terkemuka di Amerika, maka kita dapat menemukan banyak sekali mahasiswa Cina dan India, baik sebagai dosen atau postgraduate (doctorate) student disana. Idealnya, tiap 5 postgraduate asal Cina, 4 postgraduate asal India, maka seharusnya ada 1 orang postgraduate asal Indonesia, berdasarkan rasio jumlah penduduk. Namun, tidak begitu kenyataannya, setidaknya saat ini. Dan, untunglah hal ini sudah mulai disadari pemerintah, dengan menaikan anggaran pendidikan dan mengirimkan banyak anak-anak Indonesia belajar dengan beasiswa di negara lain. Mudah-mudahan dalam beberapa tahun akan mulai sedikit nampak impact-nya.
Ada salah satu perbedaan mendasar yang bisa kita lihat dari bagaimana kedua negara ini mencapai hal serupa.  India menurut saya cenderung lebih terbuka, salah satu contoh dimulai dari pendidikan dini yang sudah berbasis bahasa inggris. Contoh lain, India memberlakukan dual citizenship, yang salah satunya bertujuan untuk memudahkan warga negara mereka yang menjadi expat dapat bergerak lebih leluasa dinegara tempat mereka ‘berkarya’ tanpa harus kehilangan kewarganegaraan india-nya, apalagi dibilang tidak nasionalis.  Sedangkan Cina sedikit lebih eksklusif dalam mempertahankan ke-Cina-annya. Yang menjadi sesuatu kelebihan juga menurut saya, sehingga mereka bisa memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan membanjiri negara lain dengan produk dalam negri mereka. Semua aspek dalam kebijakan negara dan produk yang digunakan rakyak, didesain untuk mensuport kemandirian ekonomi mereka, dari facebook versi cina, google versi cina, iphone versi cina, sampai sepak terjang si kipas merah.
Terlepas dampak pros dan kons dari kebijakan dan model ekonomi mereka, jika ditarik benang merah, ada aspek yang patut diacungi jempol dan dipelajari dari mereka: sikap mental DETERMINASI, TIDAK GENGSI, dan BERANI HIDUP SUSAH..dalam arti kata ga jago kandang. Sehingga jangan heran, jika India saat ini disebut sebagai peng-export CEO terbesar di dunia. Dan Cina dengan produk-produk affordable. Dan sudah menjadi penerimaan umum dalam masyarakat mereka: Berada dan berkarya di negri orang bukan berarti tidak nasionalis, tapi menjadi kesempatan untuk memberi impact pada tanah air. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah polulasi besar didunia, tentu bisa mencapai prestasi yang serupa, dengan cara ke-Indonesiaan kita.
Marilah kita berpikir positif, tidak selamanya segala yang berasal dari luar tidak patut dicontoh, dan vice versa, dan melihat dari hal - hal yang baru, menilai apa yang baik dan buruk secara objektiv,  sehingga  kita tidak menjadi bagian dari orang-orang kuper dalam masyarakat global ini. Tidak segala sesuatunya harus dihubung-hubungkan dengan nasionalisme, yang akhirnya menjadi nasionalisme kesempitan. Akhir kata, saya teringat kalimat bapak Rhenald Kasali di tulisan beliau berjudul Passport, “Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan.”
Salam Indonesia!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar